Gordang Sembilan adalah salah satu kekayaan budaya tak benda suku Batak Mandailing dan Toba di Sumatera Utara. Alat musik perkusi ini tidak hanya sekadar instrumen, melainkan sebuah simbol spiritual dan kebesaran yang memiliki peran sentral dalam berbagai upacara adat. Keunikan suaranya yang menggelegar dan ritmenya yang dinamis mampu menciptakan atmosfer magis yang mendalam, menghadirkan nuansa sakral dalam setiap perhelatan.
Secara fisik, Gordang Sembilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang berbeda-beda, tersusun dari yang paling besar hingga paling kecil. Masing-masing gendang memiliki nada dan fungsi tersendiri, yang ketika dimainkan secara bersamaan akan menghasilkan harmoni yang kompleks dan powerful. Gendang-gendang ini terbuat dari batang pohon yang dilubangi dan ditutupi dengan kulit kerbau atau sapi, lalu diikat erat dengan rotan. Pemainnya, yang disebut pargondang, membutuhkan keterampilan khusus dan pemahaman mendalam tentang ritme adat untuk dapat menjiwai setiap tabuhan. Dahulu, alat musik ini sering digunakan dalam upacara-upacara besar seperti pernikahan adat, upacara kematian, atau ritual memanggil roh leluhur, menunjukkan betapa sentralnya peran Gordang Sembilan dalam kehidupan spiritual masyarakat Batak.
Pada era modern, meskipun beberapa ritual telah bergeser, Gordang Sembilan tetap memegang peranan penting. Misalnya, pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Mandailing Natal ke-25, yang diselenggarakan pada hari Kamis, 9 Mei 2024, di Alun-alun Kota Panyabungan, alat musik ini menjadi puncak pertunjukan. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh Pj. Gubernur Sumatera Utara, Hassanudin, dan juga disaksikan oleh Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol. Hadi Wahyudi, bersama ribuan warga. Penampilan Gordang Sembilan tersebut tidak hanya memukau, tetapi juga mengingatkan semua hadirin akan identitas budaya yang kuat. Selain itu, alat musik ini juga menjadi daya tarik utama dalam festival budaya tahunan seperti Festival Danau Toba yang rutin diadakan setiap bulan Juli, di mana wisatawan dapat menyaksikan langsung keagungan alat musik ini.
Upaya pelestarian Gordang Sembilan terus digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, seniman, dan komunitas adat. Berbagai sanggar seni dan sekolah musik tradisional mengajarkan cara memainkan alat musik ini kepada generasi muda, memastikan bahwa gaung magis Gordang Sembilan akan terus bergema dan menjadi kebanggaan tak terhingga bagi masyarakat Batak.
