Kawasan Kesawan di Medan, Sumatera Utara, bukan hanya sekadar pusat komersial lama; ia adalah galeri arsitektur hidup yang menampilkan evolusi gaya bangunan kolonial di Indonesia. Makna Arsitektur yang paling dominan dan memikat di kawasan ini adalah Art Deco, sebuah gaya yang mencapai puncaknya di Indonesia antara tahun 1920-an hingga 1940-an. Mempelajari Makna Arsitektur Art Deco di Kesawan adalah menyelami sejarah emas Deli Maatschappij (Perusahaan Deli) di mana kekayaan komoditas seperti tembakau dan kelapa sawit menciptakan kebutuhan akan desain bangunan yang mewah namun fungsional. Makna Arsitektur ini menunjukkan transisi dari gaya Nieuwe Zakelijkheid (rasionalis) ke gaya modern awal yang lebih dekoratif.
Karakteristik Art Deco di Tropis
Art Deco adalah gaya global yang dicirikan oleh bentuk geometris yang tegas, garis-garis vertikal yang kuat, dan ornamen yang terinspirasi dari mesin, teknologi, serta kebudayaan Mesir kuno dan Aztec. Namun, di kawasan Kesawan, gaya ini mengalami adaptasi yang dikenal sebagai Indies Art Deco atau Late Art Deco, yang memiliki ciri khas:
- Fungsi Tropis: Desainer Belanda mulai mengaplikasikan elemen fungsional untuk iklim tropis. Ini termasuk atap yang lebih landai dan curam untuk drainase hujan deras serta luifel (kanopi) atau balkon yang lebar untuk memberikan peneduh pada fasad bangunan.
- Jendela Pita (Ribbon Windows): Penggunaan jendela panjang horizontal yang berulang, memaksimalkan masuknya cahaya alami dan ventilasi silang, yang penting di iklim Medan yang lembap dan panas. Salah satu gedung perkantoran besar di sudut Jalan Ahmad Yani Kesawan, yang didirikan pada tahun 1938, adalah contoh klasik penggunaan jendela pita ini.
Nilai Sejarah dan Konservasi Bangunan
Banyak bangunan Art Deco di Kesawan yang dulunya berfungsi sebagai kantor dagang, bank, atau rumah tinggal para administrator perkebunan Eropa. Gedung Javasche Bank (kini Bank Indonesia) di dekat kawasan ini adalah contoh kuat Art Deco yang dipadukan dengan unsur neo-klasik.
Saat ini, upaya konservasi menghadapi tantangan komersial. Namun, Pemerintah Kota Medan, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, telah menetapkan sekitar 25 bangunan di kawasan Kesawan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan keaslian Art Deco pada fasad, meskipun fungsi interiornya telah beralih menjadi kedai kopi atau kantor modern. Tim konservasi Kota Medan secara rutin melakukan inspeksi ketat setiap tiga bulan untuk memastikan tidak ada perubahan ilegal pada struktur Art Deco yang ditetapkan.
Hubungan Antara Arsitektur dan Komoditas
Keberadaan arsitektur yang megah ini adalah bukti langsung dari puncak kejayaan Economie Koloniale di Sumatera Utara. Art Deco menyimbolkan optimisme, kemajuan teknologi, dan kekayaan yang dihasilkan oleh komoditas unggulan Deli, yang kala itu dikenal sebagai “Tanah Deli yang Kaya”. Gaya ini menunjukkan bahwa para pedagang dan elit kolonial ingin memproyeksikan citra kemakmuran dan modernitas yang setara dengan kota-kota besar di Eropa.
